GSM

Dalam era digital yang rawan tipu daya, kejujuran akan selalu menjadi nilai unggul yang wajib diperjuangkan oleh manusia. Para pengajar SD Muhammadiyah Mantaran menyadari pentingnya karakter itu dan melatih siswanya untuk jujur sejak dini. Dalam kunjungan Kelompok Kerja Guru (KKG) Moyudan, Sabtu (9/11) aspek kejujuran itu pun mendapat sorotan istimewa.

Ketertarikan ini dimulai ketika Bu Rosa (SDN 1 Moyudan) menyampaikan kekagumannya terhadap tabungan siswa yang dipajang di dinding. Di SD tempat Bu Rosa berkarya, sering terjadi kehilangan uang di kalangan anak-anak, bahkan sampai beliau mengancam akan memanggil dukun jika tidak ada yang mengaku. Adapun di Mantaran, uang justru diletakkan di ruang terbuka dan kepercayaan antaranak begitu tinggi.

Bu Nuri selaku Kepala Sekolah SD Muh Mantaran pun berbagi cerita menarik menanggapi soal kejujuran ini. Ternyata sempat ada pula kasus kehilangan dompet terjadi di kelas beberapa tahun lalu, namun kejadian itu justru menjadi pembelajaran bersama. Para guru pun menangani kejadian itu dengan semanusiawi mungkin.

“Jangan langsung menghakimi siswa, jangan menuduh, jangan langsung berkata: ‘Siapa yang mengambil?’. Tidak boleh begitu. Anak yang tertuduh akan merasa tidak nyaman, kita harus cari tahu berdasarkan data dan fakta. Kalaupun sudah ketahuan, dirahasiakan namanya dari murid dan wali murid yang lain,” ujar Bu Nuri dalam sesi tanya-jawab.

Walau ada kasus kehilangan, para guru tetap berusaha membuat murid merasa nyaman. Semula, mereka diajak untuk pembelajaran outdoor dan beberapa guru mencari dompet yang hilang di kelas. Ketika belum ditemukan, anak-anak diajak untuk refleksi di mushola dan dimintai pendapatnya soal kejadian ini. Namun, tidak ada yang mengaku hingga lewat jam pulang sekolah.

Bu Nuri akhirnya melakukan shock therapy kepada para muridnya dan memberi tenggat waktu hingga besok bagi pelaku untuk mengaku. Beliau menyampaikan kekecewaan dan kesedihannya, lalu berharap mereka akan jujur. Tak lupa, murid yang bersalah pun akan tetap dilindungi kerahasiaannya serta mendapat pembinaan.

“Luar biasa, Bu. Setelah shock therapy itu, setengah jam, ada siswa yang WA saya dan menunjukkan lokasi dompetnya. Kita kembalikan dompet itu dan ibunya bertanya. Kami menegaskan sudah tahu pelakunya, tetapi orang tua tak perlu tahu, kami hanya berjanji akan lakukan pembinaan. Saya menindaklanjuti ini langsung ke orang tua dan memberikan perlakuan khusus pada anaknya. Harus dicari tahu penyebabnya agar bisa dibina dengan optimal,” sambung beliau.

Namun, pembelajaran itu tidak hanya berhenti pada pengakuan sang pelaku. Wabah kejujuran pun secara otomatis menyebar di SD Muh Mantaran saat itu. Satu demi satu murid mengakui dosanya terkait perbuatan tidak jujur kepada para guru.

“Dari titik balik itu, anak-anak belajar bahwa kejujuran itu harus dijunjung tinggi. Kemudian, setiap guru yang masuk ke kelas itu selalu memberikan tema refleksi soal kejujuran di setiap circle time,” tandas Bu Nuri.

Tentu saja ada banyak nilai yang dipelajari KKG Moyudan dari kunjungan ke SD Muhammadiyah Mantaran, namun kejujuran jadi highlight dalam edisi kali ini. Di tengah berita hoax yang kian meluas, cerita dari para guru Mantaran sekaligus mengingatkan kita bahwa kejujuran adalah nilai yang patut diperjuangkan serta ditanamkan sejak dini.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *