GSM

Membuka Mata saja Tidak Cukup, Tengoklah Sekeliling

Pertama, mempunyai ragam torehan prestasi akademik. Berikutnya, masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Terakhir, menggunakan ilmu yang telah ditimba untuk menyejahterakan diri dan keluarga lewat bekerja. Itulah kira-kira gambaran “sukses” di negeri ini.

Berkaca dari situ, sukar rasanya untuk memenuhi semuanya. Bahkan, poin yang paling pertama saja, terdengar berat. Apalagi kondisinya, siswa sering kali disuguhkan materi dengan cara yang tidak mutakhir dan adaptif, serta dengan anggapan bahwa setiap siswa punya kapabilitas, minat, dan daya tangkap yang seragam.

Pada akhirnya, atribut siswa yang paling terdampak secara negatif adalah kepercayaan diri. Kecenderungan untuk merasa rendah sebagai individu kerap muncul ketika siswa gagal dalam mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk pelajaran-pelajaran yang bahkan tidak menarik baginya.

Pendidikan memang seyogianya mampu menjadi pemicu bagi siswa untuk membuka mata, fokus kepada apa yang ada di depan, untuk bersiap menata jalan menyongsong masa depan. Namun, semua pihak mesti ingat, kalau apa yang muncul di depan pandangan seorang siswa hanyalah sekelumit sisi dari betapa luasnya dunia. Lebih dari itu, mereka juga perlu berputar dan menengok sekeliling. Jangan-jangan ada jalur alternatif yang lebih pas bagi minatnya, terbuka tepat di belakang sana. Hanya saja, mereka tidak pernah sadar akan keberadaannya selama ini karena tidak didorong dengan serius untuk mengungkapnya.

Bergotong-Royong, Bahu-Membahu, Bersama

Anggaplah premis awal tadi sebagai masalah, maka kita perlu untuk segera mengatasinya. Tentang caranya, kita perlu untuk berkolaborasi dan berbagi peran. Perkara kolosal ini tidak bisa tuntas lewat one-sided show oleh misalnya pemerintah sebagai pengambil kebijakan, transformasi sistem yang dilakukan oleh sekolah saja, menyalahkan sepenuhnya pada kekeliruan bapak atau ibu guru yang sebenarnya didasarkan ketulusan, ataupun kegagalan siswa yang sejatinya sudah mencoba bertahan sambil terengah-engah. Tidak bisa. Pendidikan di Indonesia adalah isu kita bersama. Hanya lewat gerakan kolektif oleh seluruh bangsalah ketidakefektifan pendidikan ini dapat diperbaiki.

Seperti kredo milik seorang penyair Belgia, Rene de Clercq yang kemudian dipegang oleh Bung Hatta,

Hanya satu tanah yang bisa disebut tanah airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu adalah usahaku.”

Powerful.

Lalu, Mengapa Gerakan?”

Lantas, sebagai masyarakat umum yang tidak berada ‘di dalam sistem’, adakah yang bisa dilakukan?” Jelas ada. Kita bisa berupaya lewat penciptaan gerakan. Non-Violent Campaigns. “Memang ada kemungkinan sebuah gerakan dapat menciptakan perubahan?” Tentu ada. Kita akan berkenalan dengan sebuah kaidah.

Sebuah artikel karya penulis ternama David Robson berhasil memberikan gugahan semangat. Ia mengangkat tentang “The 3,5% Rule”, sebuah prinsip yang dibawakan oleh pengamat politik di Harvard University, Erica Chenoweth, mengenai batas minimal partisipasi dari sebuah gerakan tanpa kekerasan agar berhasil mencapai yang ditargetkan. Pertama-tama, dari total 323 jenis gerakan-gerakan yang dijadikan sampel, disimpulkan bahwa non-violent campaigns mempunyai peluang untuk sukses sebesar 53%, sementara 26% untuk aksi massa yang disertai persenjataan. Kedua, apabila level keikutsertaan atas sebuah aksi mencapai minimal 3,5% dari total populasi, maka tingkat keberhasilan untuk mencapai tujuannya hampir seratus persen

Beberapa yang berhasil menyatukan massa sebanyak minimal 3,5% dari populasi, yaitu upaya pengembalian demokrasi lewat “The People Power Movement” di Filipina, nyanyian rakyat Estonia yang memerdekakan dalam “The Singing Revolution”, dan “The Rose Revolution” yang membuahkan pengunduran oleh Eduard Shevardnadze sebagai presiden petahana Negara Georgia.

Hal yang sama juga dapat diberlakukan bagi transformasi pendidikan di Indonesia. Bahwa kita mesti mengumpulkan 9,7 juta orang untuk mencapai “The 3,5% Rule”–tidak lebih banyak daripada penduduk Kota Jakarta yang mencapai 10,67 juta orang. Meski nampak jauh sekali dari titik tersebut, tetapi puluhan juta tidak akan tercapai tanpa 40 sampai 50 orang pertama, bukan?

Ada pula sedikit privilese bagi inisiasi gerakan tanpa kekerasan, yaitu inklusivitas, alias terbuka bagi setiap orang. Tanpa persyaratan khusus yang berat karena tujuan dasarnya memang menggaet massa sebanyak-banyaknya. Itulah kekuatan dari gerakan.

Kodrat untuk Diwujudkan

Siswa atau siswi membutuhkan penyediaan wadah yang serius bagi potensi dan bakat mereka yang variatif. Untuk itu, terdapat tiga kodrat yang perlu diwujudkan menurut Sir Ken Robinson yang terdiri atas diversity, curiosity, dan imagination.

Pertama, Diversity, yaitu mengakui bahwa ada Gareth Bale yang spesialisasinya dalam sepak bola adalah untuk menyerang, di lain sisi, ada juga Iker Casillas yang justru handalnya pada soal menangkis laju bola. Lebih beda lagi, ada Steve Jobs dengan renjana untuk membuat produk yang dapat mengubah cara manusia berkehidupan lewat alat elektronik yang diprakarsainya bersama Apple Inc

Kedua, Curiosity atau rasa penasaran adalah sebuah mesin bagi individu untuk mencapai apa pun dalam hidup. Penciptaan lingkungan yang cocok bagi siswa bertanya merupakan hal yang utama agar mereka tidak segan untuk mencoba hal baru.

Terakhir, Imagination, yaitu proses di kepala untuk membayangkan sesuatu yang ideal di masa depan, diiringi oleh bahan bakar berupa kepercayaan diri. Sayangnya, sistem yang terstandardisasi pada pendidikan mampu melunturkan perasaan yakin itu.

Ajakan di dalam Gerakan Turun ke Sekolah

Didasarkan oleh hal tersebut, GSM menginisiasi sebuah program untuk mendukung terbangunnya ruang ekspresi bagi bakat dan potensi siswa yang bertajuk Gerakan Turun ke Sekolah (GTS).

Bentuknya adalah sebuah wadah untuk mengoneksikan “yang peduli” dengan “yang membutuhkan” dalam konteks pendidikan. GTS merupakan tindak lanjut dari gagasan Gerakan Sekolah Menyenangkan yang sebelumnya, yaitu “Guru Sang Intelektual”. Dialog bersama siswa menjadi basis utama untuk mewujudkan misi ini, dengan guru dan mahasiswa yang akan menjadi fasilitatornya. Pembahasannya mulai dari kultur, saintek, gaya hidup, hingga lingkungan hidup.

Selain akan bermanfaat bagi siswa, GTS juga akan menjadi kesempatan emas bagi masyarakat dari segala kalangan yang ingin terlibat secara langsung dalam upaya pemberdayaan para siswa.

Harapan dan Cita

Semoga Gerakan Turun ke Sekolah (GTS) dapat menjadi bagian daripada jawaban besar untuk memecahkan problem pendidikan di Indonesia. Dengan ini, GSM mengambil peran sebagai salah satu inisiator yang perlu dibantu oleh kontributor, suporter, dan peran-peran lainnya agar gerakan ini panjang, umurnya.

Guna menjadi tren yang berkelanjutan, tentunya langkah permulaan mesti ditapaki. Seperti gelinding bola salju untuk menjadi mega dan kepingan domino yang berantakan, tetapi indah pada prosesnya, keduanya butuh dorongan dan sentilan pertama untuk terjadi. 

Sesuatu tidak akan menjadi hasil, tanpa proses, dan proses tidak akan pernah terjadi tanpa dimulai. Mari awali dengan baik, lalu, rawat baik itu sampai tuntas.

Sumber:

Penulis: Dimas Adytya Putranto

Editor: Ratu Mutiara Kalbu


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This website uses cookies and asks your personal data to enhance your browsing experience.