GSM

Kebo nusu gudel. Pepatah Jawa itu secara harafiaf bermakna ‘kerbau menyusu anaknya’. Adapun ia kerap digunakan untuk menunjuk pada seorang yang lebih tua berguru pada yang lebih muda, terlepas dari usia dan pengalaman. Ada niat belajar dari orang lain dalam konteks ini, tanpa memerhatikan dari mana ‘materi pelajaran’ itu berasal. Dalam GSM, ini merupakan titik awal untuk membangun kolaborasi.

Jumat (4/2), kelompok pengajar dan siswa SMPN 2 Sleman pun melakukan hal yang sama ketika berkunjung ke SDN Ngebelgede 2 dan SD Muhammadiyah Mantaran. Para pengajar jenjang yang lebih tinggi, yakni SMP, ternyata tidak malu dan justru bersemangat untuk melakukan studi di SD.

Kunjungan itu, yang merupakan tindak lanjut atas workshop Sleman awal bulan Desember lalu, menciptakan momen-momen yang menarik. Anak-anak SMP yang diajak tidak segan untuk menemani adik-adiknya belajar, tidak menggurui, bahkan tertawa bersama. Mereka pun berharap suasana SMP mereka sama cerianya dengan SDN Ngebelgede 2 dan SD Muh Mantaran.

“Kelasnya bagus, warna-warni,” ujar Ana, siswi kelas VII SMPN 2 Sleman. “Kepingin punya Amplop Kebaikan, Harapan Anak, dan Zona Emosi di kelas. Zona Emosi sih yang paling pingin, biar nggak dimarahi kalau lagi sedih. Soalnya kadang dimarahi kalau buat salah.”

Pola pikir dari pendidik SMPN 2 pun tampak sudah mengalami perubahan dan menempatkan siswa sebagai subjek pendidikan, bukan objek. Ini ditunjukkan dengan bagaimana para staf memroses hasil kunjungan ini. Bukan semata-mata partisipasi guru, tetapi pendapat anak turut dipertimbangkan.

“Tidak tahu, Mas,” kata Pak Totok, staf SMPN 2 Sleman, ketika ditanya seperti apa kira-kira kebijakan yang diambil setelah kunjungan. “Nanti kita lihat dulu cerita anak-anak, mereka maunya apa, baru nanti didiskusikan dan diambil keputusan.”

Dalam sesi diskusi, para guru yang lebih tua pun tidak segan untuk menyampaikan pertanyaan-pertanyaan soal GSM. Satu hal yang paling membingungkan bagi mereka adalah bagaimana mereka bisa memulai gerakan ini di sekolah. Bu Itug selaku kepala sekolah pun menjelaskan bagaimana para siswa dan guru bekerja sama untuk membuat code of conduct, membuat sekolah ‘berwarna’, sembari membangun karakter anak.

Semangat Berbagi

Pada waktu bersamaan, ada pula kunjungan dari SD Muhammadiyah Bausasran ke SDN Rejodani. Kerja sama antarsekolah di GSM memang kerap diadakan untuk memperluas wawasan pendidikan. Setiap sekolah memiliki kekuatan unik dan tentu bisa belajar dari masing-masing keunggulan, asalkan tidak menutup mata dari kritik dan evaluasi.

“Sekolah-sekolah yang tergabung di GSM saling bekerja sama dan berkolaborasi untuk menciptakan ekosistem sekolah yang menyenangkan, yang membuat anak kecanduan belajar di sekolah,” ujar Muhammad Nur RIzal, pendiri GSM. “Jadi, kolaborasi akan merasuk menjadi nilai holistik di sekolah dan bahkan kolaborasi dilakukan lintas jenjang pendidikan seperti sekolah SMP belajar ke sekolah SD.”

Kolaborasi dan keterbukaan pikiran untuk belajar dari orang lain, bahkan dari yang lebih muda, merupakan salah satu kekuatan GSM dalam menyebarkan semangat positif pendidikan. Perbedaan tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan potensi untuk memperkuat fondasi pendidikan. Semakin banyak berbagi, semakin luas pula wawasan dan semakin kuat pijakan pikiran manusia secara kolektif.

Ada pepatah kuno Afrika yang kiranya mampu merangkum nilai-nilai kolaborasi yang dianut ini: “Jika ingin maju dengan cepat, pergilah sendiri. Jika ingin melangkah jauh, berangkatlah bersama-sama.”

Categories: Inspirasi GSM

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *