GSM

Komunitas Magelang

Profil Komunitas

Pada bulan Agustus 2023, sebuah inisiatif Komunitas GSM daerah muncul di Magelang, yang diinisiasi oleh Bu Yumna. Inspirasi ini datang saat Bu Yumna saat mengajar les. Salah satu wali murid menyarankan untuk bergabung dengan GSM yang merupakan temannya Bu Novi, Co Founder GSM. Rekomendasi ini menjadi titik awal ketertarikannya. Sebenarnya sejak 2011, Bu Yumna telah mengikuti konten-konten GSM melalui media sosial Facebook dan sering kali bergumam, “kapan ya sekolahku bisa seperti itu?”. Namun, impiannya baru terwujud pada tahun 2023. Awalnya, beliau merasa takut karena baru saja lulus kuliah dan masih berstatus honorer. Seiring berjalannya waktu, ketika membuka Instagram, Bu Yumna kembali teringat tentang GSM dan mencoba mencari informasi mengenai cara membentuk komunitas GSM di Magelang. 

Langkah pertamanya dalam membentuk komunitas ini dimulai dengan menghubungi teman-temannya satu persatu, menawarkan untuk bergabung dalam grup GSM. Saat itu, ia berhasil mengajak sekitar 15 temannya untuk membentuk grup WhatsApp dan mengajukan pembentukan komunitas ini kepada Bu Lily dari GSM Pusat. Pada bulan September 2023, komunitas ini mengikuti acara “Sapa GSM Magelang” yang diadakan oleh GSM Pusat. Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari GSM Pusat dan perwakilan komunitas GSM dari daerah lain seperti Lamongan dan Supiori, yang bertujuan untuk berbagi pengalaman dan saling menguatkan. “Sapa GSM Magelang” sangat membantu GSM Magelang yang masih merintis komunitasnya. Dari acara ini, Bu Yumna bertemu dengan Bu Sumiyatun, seorang pegiat GSM meskipun belum tergabung dalam grup komunitas manapun. Sejak saat itu, Bu Yumna dan Bu Sumiyatun semakin aktif mengimbaskan nilai-nilai GSM hingga ke dalam grup guru penggerak.

Sebelum Mengenal GSM (titik balik)

Sebelum mengenal Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Bu Yumna masih menjadi seorang guru yang monoton dan penuh tekanan. “Kerja ya kerja aja, ngajar ya ngajar aja,” begitu pikirnya. Aktivitas mengajar hanya menjadi rutinitas yang dijalani tanpa makna lebih dalam. Saat belum menikah, ia merasa bahwa tugas mengajarnya sudah cukup berat. Namun, setelah menikah dan memiliki dua anak balita, ia merasa beban kerja semakin bertambah. Kehidupan pribadi dan profesionalnya terasa penuh dengan tekanan, dan semangat mengajar mulai meredup. Segalanya mulai berubah ketika Bu Yumna mengenal GSM. Ia menemukan apa yang selama ini ia cari yaitu pemahaman mendalam tentang esensi mengajar. Bu Yumna mulai memahami bahwa mengajar adalah tentang memberikan inspirasi dan membangun hubungan yang positif dengan siswa. Pada awalnya, banyak teman-teman Bu Yumna mengira GSM adalah sebuah program yang penuh dengan tugas dan beban tambahan, mirip dengan program Guru Penggerak yang mereka kenal. Namun, di GSM ia menemukan lingkungan yang berbeda. Guru-guru tidak lagi bersaing satu sama lain, melainkan saling merangkul dan belajar bersama. Para leader di komunitas ini justru meminta yang lebih muda untuk turut aktif dan gantian untuk memberikan praktik berbagi, sehingga semua bisa belajar dan berkembang bersama. Dalam komunitas GSM Magelang, Bu Yumna merasa seperti seorang adik yang didorong dan diberi motivasi oleh kakak-kakaknya. Ia mendapatkan dukungan dan semangat yang baru, yang membuatnya kembali menemukan kebahagiaan dalam mengajar.

Sesudah Mengenal GSM

Setelah bergabung dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), hidup Bu Yumna berubah secara positif. Di GSM, ia menemukan sebuah wadah yang memungkinkannya untuk saling berbagi pengalaman dan cerita dengan teman-teman yang memiliki tujuan yang sama. Hal ini sangat membantunya dalam mengatasi berbagai tantangan. Dahulu, di lingkungan sebelumnya, guru-guru sering kali saling bersaing. Namun, di GSM, paradigma ini berubah. Mereka saling belajar dan merangkul satu sama lain, saling memberi dukungan dan dorongan untuk tumbuh bersama. Bu Yumna merasa bersyukur karena GSM membantunya untuk membangkitkan kembali mimpi lama, yaitu menjadi seorang guru yang dicintai oleh anak-anaknya. Meskipun komunitas masih dalam tahap merintis, banyak yang ingin belajar dan berkembang bersama-sama. 

Di GSM, Bu Yumna juga mendapatkan ilmu baru tentang mengajar. Ia belajar bahwa mengajar tidak harus selalu serius dan administrasi tidak perlu dijadikan beban. Motivasi untuk terus belajar pun meningkat, terutama setelah mengikuti zoom sapa komunitas dengan para leader, di mana ia melihat seorang peserta zoom masih bisa menyempatkan hadir zoom sambil memasak atau ada peserta lain yang melakukan hal lainnya. Hal ini membuatnya mengalami perubahan dalam cara pandang Bu Yumna terhadap profesi dan kehidupannya secara keseluruhan. Bagi Bu Yumna, GSM bukan hanya sebuah komunitas, tetapi juga sebuah berkah yang merubah mindsetnya. Ia tidak lagi merasa stres dan tegang, melainkan lebih tenang dan optimis dalam menjalani profesi sebagai pendidik. Hal yang paling berkesan baginya adalah pembelajaran dari anak-anak. Mereka hanya ingin diperhatikan, diajak bermain, dan didengarkan. Hal-hal sederhana ini sering kali diabaikan, namun di GSM Bu Yumna belajar bahwa pendekatan dengan kasih sayang dan kepedulian bisa memiliki dampak yang besar. Ternyata, tidak perlu tampil galak dan berwibawa untuk mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan dari anak-anak.

Agenda Komunitas

Setiap bulannya komunitas Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Magelang mengadakan pertemuan koordinasi para leader. Komunitas juga berencana untuk mengadakan pertemuan kopdar guna membentuk pengurus secara struktural. Saat ini, komunitas di Magelang belum memiliki struktur kepengurusan yang formal, sehingga langkah ini diharapkan dapat memberikan arah yang lebih jelas dan terstruktur ke depannya. Dalam pertemuan ini, mereka juga akan membahas agenda-agenda mendatang yang akan dijalankan. Selanjutnya, agenda yang direncanakan adalah Gerakan Turun Sekolah (GTS) pada bulan Juli 2023, agenda ini melibatkan sekitar 120 relawan yang telah mendaftar. Tujuan dari GTS adalah untuk memberikan semangat baru kepada para guru yang sebelumnya kurang aktif dalam grup.

Komunitas GSM Magelang memiliki harapan besar untuk wilayahnya yang memiliki karakteristik dataran rendah dengan 70 sekolah dasar yang tersebar di 3 kecamatan sehingga mudah dijangkau antar daerah. Potensi untuk menjadikan komunitas ini solid sangat besar, namun tantangan yang dihadapi adalah banyaknya guru yang ingin berkontribusi tetapi masih bingung dari mana harus memulai. Oleh karena itu, dengan adanya agenda-agenda seperti GTS dan pembentukan struktur kepengurusan, mereka berharap dapat memberikan arah yang lebih jelas dan membantu mengatasi kendala-kendala ini. Agenda-agenda komunitas seperti ini menunjukkan komitmen dan semangat dari anggota-anggota GSM Magelang untuk terus bergerak maju dalam mengembangkan pendidikan di kota mereka.

Profil bu Yumna

Bu Yumna Fatikha

*Jika ingin bergabung atau belajar dengan Komunitas Magelang bisa menghubungi leader kami!

Publikasi Artikel

Media Sosial

This website uses cookies and asks your personal data to enhance your browsing experience.