Pak Bambang pertama kali mengenal Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) melalui platform daring, seperti website dan YouTube. Ketertarikannya terhadap filosofi pendidikan yang lebih inklusif dan menyenangkan membuatnya memutuskan untuk bergerak. Tanpa menunggu lama, ia menghubungi beberapa teman dekatnya dan bersama-sama membentuk grup GSM di Probolinggo. Pak Bambang bukan hanya memfokuskan usahanya di Probolinggo, tetapi juga merambah ke kota-kota lain seperti Malang, Pasuruan, dan Batola, menunjukkan dedikasi dan visinya untuk menciptakan perubahan yang lebih luas.
Pada tanggal 27 Mei 2023, grup GSM Probolinggo resmi terbentuk. Dengan latar belakangnya sebagai seorang guru yang berjejaring luas, ia mampu menyatukan berbagai komunitas pendidik di wilayah tersebut. Namun, di tahun 2024, dengan masa pensiunnya yang semakin dekat, Pak Bambang memutuskan untuk menyerahkan kepemimpinan komunitas GSM Probolinggo kepada Bu Marhaen, seorang guru dari SMPN 2 Pajarakan. Langkah ini dilakukan agar gerakan yang sudah dimulai di Probolinggo dapat terus berlanjut dan berkembang.
Sebelum mengenal GSM, suasana pembelajaran di sekolah-sekolah di Probolinggo masih sangat formal dan cenderung statis. Pak Bambang mengamati bahwa siswa-siswa hanya mendengarkan guru tanpa banyak terlibat dalam proses belajar. Diskusi jarang terjadi, dan kreativitas siswa tidak diberi ruang untuk berkembang. Siswa lebih sering diposisikan sebagai penerima informasi pasif, mengikuti pola pengajaran lama yang kurang memotivasi mereka untuk berpikir kritis atau berpartisipasi aktif dalam kelas.
Pak Bambang merasa ada kebutuhan mendesak untuk mengubah pendekatan ini. Ia ingin menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis seperti siswa yang merasa termotivasi untuk belajar dan berpartisipasi. Namun, ia belum menemukan metode yang tepat hingga akhirnya ia menemukan GSM, sebuah gerakan yang mengedepankan konsep “sekolah menyenangkan.”
Setelah mengikuti beberapa webinar dan pelatihan yang diselenggarakan oleh GSM, Pak Bambang dan Bu Marhaen mulai menerapkan metode-metode baru dalam kelasnya. Mereka mencoba mempraktikkan berbagai inovasi pembelajaran yang diajarkan oleh Pak Ali, salah satu penggerak komunitas di GSM. Bagi Bu Marhaen, GSM bukan sekadar teori, tetapi sebuah pendekatan praktis yang langsung bisa dirasakan dampaknya di dalam kelas.
Bu Marhaen menyadari bahwa perubahan besar tidak bisa terjadi dalam semalam. Tidak semua guru di sekitarnya siap untuk berubah, tetapi itu tidak menghentikannya untuk berbagi dan berkolaborasi dengan mereka yang tertarik. Dengan penuh semangat, ia berusaha mengubah dirinya terlebih dahulu, mempraktikkan apa yang telah dipelajarinya, lalu berbagi dengan beberapa rekan guru yang bersedia mendengarkan dan mencoba hal baru.
Kontribusi GSM menjadi sangat berarti dalam meningkatkan pola hubungan antara guru dan siswa. Suasana belajar menjadi lebih inklusif, di mana guru tidak lagi hanya menjadi sosok otoritatif yang memberikan instruksi, melainkan menjadi fasilitator yang memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif. Perubahan kecil dalam gaya pengajaran mulai terlihat, di mana siswa menjadi lebih antusias dan bersemangat mengikuti pelajaran.
Meskipun komunitas GSM Probolinggo sudah terbentuk, kegiatan-kegiatannya masih sebatas berbagi secara daring melalui grup WhatsApp. Belum ada aksi yang dilakukan secara langsung atau luring. Namun, berbagi pengalaman dan inspirasi secara daringini menjadi langkah awal yang penting untuk membangun kesadaran di kalangan guru-guru di Probolinggo.
Bu Marhaen berharap, GSM Probolinggo dapat mulai bergerak lebih aktif. Mungkin dengan pertemuan tatap muka atau workshop kecil-kecilan, komunitas ini bisa semakin solid dan melahirkan lebih banyak guru yang siap berinovasi.