Tulisan ini adalah sebuah refleksi dari pengalaman pendidikan yang selama ini penulis rasakan. Sering kita mengetahui bagaimana perspektif guru dalam praktik pendidikan, namun jarang kita mengetahui dan mendengar perspektif dari siswa, yang tak lain adalah tokoh utama dalam dunia pendidikan juga.
Sebagai mantan siswa, penulis memandang budaya kompetisi membuat siswa belajar dengan giat, mengerjakan PR, dan membuat tugas bukan lagi karena ingin mendapatkan ilmu, melainkan supaya tidak kalah atau malu. Hal itu adalah salah satu dampak dari praktik pendidikan Indonesia yang bersifat kompetitif. Di sisi lain, kompetisi dalam pendidikan juga memiliki dampak negatif yang dapat berakibat pada pembangunan mental dan fisik siswa. Beberapa dampak negatif yang kemungkinan muncul dari sistem kompetitif adalah merusak rasa percaya diri siswa, merusak kualitas tidur, menimbulkan perilaku bermasalah, dan risiko penyakit mental lebih tinggi. Keempat dampak tersebut muncul karena sistem kompetitif di sekolah dan orang tua di rumah yang menekan siswa untuk mendapatkan nilai bagus. Rasa percaya diri siswa dapat rusak karena perasaan malu yang mereka rasakan saat mendapatkan nilai yang buruk.
Kualitas tidur dapat rusak karena siswa harus belajar sampai larut malam tanpa memperhatikan jam tidur mereka. Karena kurang tidur, siswa sulit fokus pada pelajaran dan justru mendapatkan nilai yang buruk. Pada akhirnya, rasa percaya diri siswa akan rusak atau berkurang. Pendidikan kompetitif juga mengarah pada perilaku bermasalah. Didasari oleh rasa takut mendapatkan nilai yang jelek, siswa akan melakukan hal yang salah seperti mencontek atau melakukan kecurangan lain dalam belajar. Siswa akan melakukan segala hal untuk mendapatkan nilai yang bagus. Mereka melakukan hal tersebut dengan pikiran bahwa mereka dapat membanggakan orang tua karena mendapatkan nilai bagus. Selain itu, mereka juga tidak ingin malu kalau sampai tidak naik kelas dan mendapatkan nilai yang jelek.
Secara jasmaniah, suasana kompetisi meningkatkan detak jantung, aktivitas otot, tekanan darah, hormon testoteron, kortisol, dan adrenalin. Hal ini menandai dikerahkannya kemampuan maksimal yang memungkinkan pencapaian prestasi tertinggi atau pemecahan rekor. Tetapi di sisi lain, juga bisa menyebabkan kehabisan energi (breakdown) jika tidak kuat. Siswa yang terlalu kompetitif biasanya kehilangan hasrat akan pengetahuan dan lebih terobsesi pada nilai. Siswa yang terobsesi pada nilai akan melupakan tujuan utamanya dalam belajar. Siswa seharusnya belajar dengan didasari oleh rasa ingin tahu, bukan karena diiming-imingi, diancam, atau dipaksa. Karena jika pikiran siswa dipenuhi oleh ambisi mendapatkan nilai setinggi-tingginya dan menjadi juara satu, maka mereka dapat mengalami breakdown atau kehabisan energi jika mereka tidak berhasil mencapai ambisi mereka itu.
Oleh sebab itu, untuk mengurangi dampak-dampak negatif di atas, pendidikan yang kompetitif baiknya diubah menjadi pendidikan yang berbagi dan kolaborasi. Kajian psikologi yang dilakukan Alfie Kohn menemukan bahwa siswa akan belajar lebih baik ketika berada dalam lingkungan yang kolaboratif dibandingkan kompetitif. Itu karena kolaborasi mengajarkan pentingnya kehadiran orang lain, mengingat bahwa kita merupakan makhluk sosial. Dengan begitu, para siswa tidak hanya fokus pada keunggulan yang dimiliki oleh dirinya sendiri. Kolaborasi sebagai model pembelajaran merupakan suatu upaya untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran, sebagai suatu strategi pemecahan masalah pembelajaran dan mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.
Melalui pendidikan kolaboratif, siswa lebih dirangsang untuk aktif dalam kegiatan yang menuntut kemampuan berkoordinasi, bekerja bersama-sama tanpa mendikotomikan pihak satu dan lainnya berdasarkan pada label kompetensinya. Dengan begitu, pendidikan kita dapat menghasilkan banyak kolaborator yang sanggup hidup berdampingan, menghargai, dan bekerja sama dengan orang lain untuk mengisi kekosongan dan ketidakseimbangan.
Salam,
Berubah, berbagi, kolaborasi!
Penulis: luthfiasari sekar
Editor: Hayinah Ipmawati
0 Comments