GSM

Berubah dari Hal yang Sederhana!

Ketika tiba kembali ke kota asalnya yakni Cirebon, Bu Dewi langsung bergerak untuk menciptakan perubahan yang tentunya bermodalkan bekal yang beliau bawa dari hasil study visit ke Yogyakarta. Langkah pertama yang Bu Dewi lakukan adalah dengan merubah suasana ruang kelas menjadi menarik. Ada pertanyaan yang terlontar ketika Bu Dewi berhasil mewujudkan ruang kelasnya menjadi lebih hidup, “Oh, oleh-oleh dari study visit GSM itu ngecat kelas ya bu?”, pertanyaan tersebut ternyata disambut dengan jawaban penuh bangga oleh Bu Dewi, “Yes, karena menggambar dengan cat di ruang kelas dan lingkungan sekolah adalah bagian dari menciptakan lingkungan positif yang bisa mengunggah imajinasi (daya khayal) dan juga sebagai stimulus sensorik anak-anak secara tidak langsung”.

Menciptakan Ruang Kelas sebagai Tempat Berkespresi dan Berkreasi

ada kesempatan tersebut, Bu Maya mengangkat tema ‘cita-cita dan impian’. Anak-anak diberikan ruang untuk berekspresi dan berkreasi membuat topi impian, selanjutnya topi yang sudah berhasil dibuat diberikan tulisan berupa cita-cita dan impian masa depan. Ternyata, di balik berbagai jawaban yang diberikan oleh setiap anak, yang tentunya berbeda. Banyak kisah unik dan menarik yang berhasil menggelitik hati Bu Maya. Diantaranya, yaitu ada Mbak Qila yang memiliki cita-cita untuk menjadi gamers, namun tidak diberi dukungan oleh ayahnya dengan alasan game hanya akan menganggu proses belajarnya dan profesi menjadi gamers tidak menghasilkan uang. Sementara disisi lain, ada Mbak Lila yang bercita-cita menjadi idol namun lagi-lagi impiannya dilarang oleh ibunya karena menurut ibunya profesi idol adalah suatu pekerjaan yang aneh.

Kolaborasi Guru dan Anak Muda: Memperbaiki Pendidikan dengan Bergerak!

Salah satu guru penyimpang positif GSM menjelaskan bahwa bahwa akar permasalahannya adalah masih banyak para guru yang berorientasi pada kentutasan materi. Kompetensi-kompetensi dasar di kurikulum banyak diterjemahkan secara tekstual, sehingga proses kegiatan pembelajaran hanya berisikan materi, ulangan, ujian dan begitu seterusnya hingga membentuk siklus. Sekolah hanyalah sebatas formalitas, sedangkan siswa tidak tahu arah dan tujuannya.

Visitasi Menyenangkan di SD N Rejodani

Tempo hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 20 Januari 2022 di SD N Rejodani mendapatkan kunjungan dari Boyolali. Rombongan yang datang dari Boyolali tersebut datang untuk melihat bagaimana penerapan nilai – nilai Gerakan Sekolah Menyenangkan yang ada di SD N Rejodani. Rombongan tersebut memulai aktivitasnya dengan melakukan melakukan observasi, dokumentasi, serta wawancara dan pengamatan mendalam mengenai proses belajar mengajar di SD N Rejodani.

Pendidikan yang Berhamba pada Anak

Pendidikan yang menghamba pada anak menekankan pada minat, kebutuhan dan kemampuan individu, menghadirkan model dan metode belajar yang menggali motivasi untuk membangun habit anak menjadi pembelajar sejati, selalu ingin tahu terhadap informasi dan pengetahaun, suka dan senang membaca. Pembelajaran yang seperti ini sekaligus dapat mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan di era mendatang seperti kreativitas, inovatif, kepemimpinan, rasa percaya diri, kemandirian, kedisiplinan, kekritisan dalam berpikir, daya nalar yang tinggi, kemampuan berkomunikasi dan bekerja dalam tim, serta wawasan global untuk dapat selalu beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan.

Bekerja dengan Hati, Mendidik dengan Hati

Di akhir, Pak Widodo menyampaikan closing statement yang sangat berkesan, “Ketika anda tidak berubah, artinya anda tidak tumbuh dan ketika anda tidak tumbuh, artinya sekolah anda tidak ada tanda kehidupan. Dan ketika kita mampu membawa perubahan pada anak-anak, percayalah itu bukan sekadar memberikan perubahan. Namun, kita berhasil menyelematkan kehidupan anak-anak, menyelamatkan generasi penerus bangsa”. Ujar Pak Widodo.

Lantas, mengetahui dengan membaca sedikit kisah Pak Widodo ini adakah frasa yang dapat menggambarkan profesi guru selain panggilan hati?

Jadikan GSM sebagai Perpub!

[vc_row][vc_column][vc_column_text]Beliau adalah Pak Rafles seorang birokrat yang saat ini menjabat Kepala Dinas Pendidikan di Kabupaten Supiori, Papua. Dalam wawancara podcast #RizalBertanya yang disiarkan di Youtube milik Gerakan Sekolah Menyenangkan, Pak Rizal selaku Founder GSM menyebut Pak Rafles sebagai penyimpang positif. Jika biasanya sebutan penyimpang positif ini diberikan kepada guru-guru, dalam Read more…

This website uses cookies and asks your personal data to enhance your browsing experience.